Pesan Terkirim!

Tim kami akan segera membalas.

Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Banda Aceh: Antara Simbol Sejarah dan Ketegangan Pusat–Daerah

MediaCivitas
Minggu, 16 Agustus 2026
Berita Nasional
**BANDA ACEH** — Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), berakhir ricuh. Bentrokan antara massa dan aparat keamanan pecah sekitar pukul 11.00 WIB setelah sejumlah orang mengibarkan bendera Bulan Bintang dan menurunkan bendera Merah Putih. Sebelum kericuhan terjadi, ribuan warga dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh mengikuti zikir dan doa bersama untuk memperingati 21 tahun penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki. Kegiatan tersebut digelar guna mengenang berakhirnya konflik bersenjata di Aceh. Namun di tengah acara, sejumlah orang mengibarkan bendera Bulan Bintang di beberapa titik kompleks masjid. Situasi kian memanas setelah seorang warga memanjat tiang, menurunkan bendera Merah Putih, dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang sembari meneriakkan yel-yel "merdeka". Aparat TNI-Polri yang berjaga di lokasi segera berupaya menghentikan aksi tersebut. Ketegangan pun meningkat hingga terjadi aksi saling lempar. Massa melemparkan batu, botol, dan benda tumpul ke arah petugas pengamanan. Petugas merespons aksi tersebut dengan tembakan peringatan ke udara, semprotan air dari water cannon, serta gas air mata. Bentrokan ini mengakibatkan sejumlah kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi mengalami kerusakan kaca, serta satu unit sepeda motor milik TNI dibakar. Selain itu, beberapa warga dan aparat dilaporkan mengalami luka-luka, meski data pasti mengenai jumlah korban belum dirilis secara resmi. Kericuhan sempat meluas ke kawasan sekitar masjid hingga mendekati Pendopo Gubernur Aceh sebelum akhirnya dibubarkan petugas. Masyarakat yang hendak melintas diimbau untuk sementara memutar arah hingga situasi kondusif. **Situasi Kembali Kondusif** Pada Minggu (16/8/2026), Polda Aceh menyatakan situasi di Banda Aceh dan sekitarnya telah terkendali. Personel gabungan TNI-Polri tetap disiagakan untuk mengamankan lokasi dan meningkatkan patroli wilayah. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh juga menggelar rapat khusus untuk merumuskan langkah penanganan pascainsiden. Di sisi lain, pengelola Masjid Raya Baiturrahman meminta panitia penyelenggara bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas yang terjadi selama kericuhan. **Simbol Sejarah di Tengah Perdamaian** Pengibaran bendera Bulan Bintang diduga menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kericuhan. Bendera tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan merupakan simbol yang sensitif dalam konteks stabilitas Aceh. Mediator perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen, mengingatkan seluruh pihak agar menempatkan simbol eks-GAM tersebut secara bijak sebagai bagian dari sejarah, bukan untuk memicu ketegangan baru. Ia menegaskan pentingnya menjaga prinsip dignity for all (bermartabat untuk semua). Menurut Juha, pemerintah pusat, pemerintah daerah, mantan anggota GAM, dan seluruh elemen masyarakat memikul tanggung jawab bersama untuk merawat perdamaian. **Jusuf Kalla: Insiden Tidak Mewakili Masyarakat Aceh** Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai kericuhan ini tidak mencerminkan keinginan masyarakat Aceh secara keseluruhan yang telah menikmati perdamaian selama dua dekade. JK menduga insiden ini dipicu oleh ketidakpuasan kelompok atau pimpinan eks-GAM tertentu, bukan bentuk penolakan masyarakat luas terhadap pemerintah pusat. Ia menambahkan bahwa perdamaian Aceh tidak berada dalam ancaman serius, mengingat pelaksanaan beberapa kali Pemilihan gubernur Aceh sebelumnya terbukti dapat berjalan aman dan lancar. **Dua Puluh Satu Tahun MoU Helsinki** MoU Helsinki ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Finlandia antara Pemerintah Republik Indonesia dan GAM, dengan fasilitasi mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari melalui Crisis Management Initiative. Kesepakatan ini mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung hampir tiga dekade dan mengatur kerangka pemerintahan Aceh, partisipasi partai politik lokal, reintegrasi, hingga amnesti dalam bingkai NKRI. Peringatan 21 tahun perdamaian yang semestinya menjadi momentum refleksi ini memang diwarnai insiden. Namun, peristiwa tersebut tidak mengeliminasi komitmen panjang masyarakat Aceh dan pemerintah dalam menjaga perdamaian yang telah terbangun. Penulis : Fian Wahyu Firmansyah Penyunting :Wayan Putri Nisrina Arum Layouter : Fian wahyu Firmansyah Refrensi : https://nasional.sindonews.com/read/1739509/15/jk-ungkap-pemicu-kericuhan-di-peringatan-hari-damai-aceh-1786835314 https://www.tempo.co/politik/peringatan-hari-damai-aceh-berujung-ricuh-2282189 https://news.republika.co.id/berita/tjt9x5377/ricuh-di-aceh-tokoh-bendera-gam-cukup-dihormati-sebagai-sejarah-bukan-untuk-kepentingan-tertentu https://nasional.kompas.com/read/2026/08/16/08175851/peringatan-hari-damai-aceh-ricuh-tni-merespons-jk-buka-suara?page=all