Pesan Terkirim!

Tim kami akan segera membalas.

Parkir Berlangganan Semester Ganjil 2026 Mulai Diterapkan, Mahasiswa Soroti Minimnya Sosialisasi

MediaCivitas
Senin, 7 September 2026
Editor: Daffa Nugraha
Layouter: Daffa Nugraha
WartaBasement (WB)


MALANG – Kebijakan parkir berlangganan menggunakan stiker untuk semester ganjil 2026 mulai diterapkan di Universitas Merdeka (Unmer) Malang pada Senin (7/9/2026). Mahasiswa dikenai biaya Rp50.000 per semester untuk penggunaan fasilitas parkir. Penerapan kebijakan tersebut mendapat beragam tanggapan, terutama terkait minimnya sosialisasi dari pihak kampus. Triszki, mahasiswa semester tiga Fakultas Psikologi, mengaku baru mengetahui adanya kewajiban pembayaran parkir berlangganan pada hari pertama kebijakan tersebut diberlakukan. Ia mengatakan belum menerima sosialisasi sebelumnya dari pihak kampus mengenai penerapan sistem parkir baru.


Hal serupa disampaikan Amelia, mahasiswa Fakultas Psikologi. Ia mengaku belum mendapatkan informasi mengenai kebijakan parkir berlangganan tersebut sebelum diberlakukan. Meski demikian, Amelia menilai sistem parkir berlangganan dapat memberikan keuntungan bagi mahasiswa. Dengan biaya Rp50.000 per semester, mahasiswa dinilai dapat menghemat pengeluaran dibandingkan tarif parkir harian sebesar Rp2.000.


Namun, ia berharap pihak kampus menyampaikan informasi mengenai kebijakan tersebut lebih awal. Menurutnya, mahasiswa membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pembayaran, terutama karena biaya parkir berlangganan harus dibayarkan sebesar Rp50.000. Selain persoalan sosialisasi, Triszki mempertanyakan aspek keamanan stiker parkir yang digunakan pada semester ini. Ia menilai desain stiker baru lebih mudah diduplikasi karena hanya berupa gambar biasa. Kondisi tersebut berbeda dengan stiker yang digunakan pada periode sebelumnya yang dilengkapi hologram.


Minimnya informasi juga dirasakan oleh petugas parkir. Agung Fauzi, salah satu petugas parkir, mengatakan pembelian stiker mulai dilayani pada 7 September 2026 melalui pos penjagaan masing-masing atau koperasi. Agung menilai penyampaian informasi mengenai kebijakan tersebut masih kurang terkoordinasi. Menurutnya, sosialisasi mengenai sistem parkir justru lebih banyak dilakukan oleh petugas di lapangan, sementara informasi dari pihak pusat kepada mahasiswa dinilai belum maksimal.


Meski demikian, Agung mengatakan mahasiswa tetap kooperatif ketika petugas memberikan penjelasan mengenai sistem parkir secara bertahap. Ia juga menyebutkan bahwa stiker parkir semester ini menggunakan desain yang berbeda dan dinilai lebih segar dibandingkan stiker pada semester sebelumnya.


Sementara itu, Ketua Koperasi Karyawan Yayasan Perguruan Tinggi Merdeka, Aam Fajar, menjelaskan latar belakang penerapan sistem parkir berlangganan dalam wawancara pada Selasa (1/9/2026). Ia mengatakan hasil penjualan stiker menjadi salah satu sumber pembiayaan operasional parkir, terutama untuk memenuhi kebutuhan gaji petugas parkir resmi yang mencapai sekitar Rp30 juta setiap bulan.


Menurut Aam, sistem pengelolaan parkir satu pintu diterapkan agar pendapatan dari sektor parkir dapat dikelola secara optimal oleh lembaga. Sistem tersebut juga ditujukan untuk mencegah pengelolaan parkir oleh pos-pos tidak resmi atau yang disebutnya sebagai “kerajaan kecil”.


Aam mengatakan sistem parkir berlangganan saat ini masih berada dalam tahap transisi. Pihaknya sedang memproses pembaruan kebijakan agar pada tahun berikutnya mahasiswa tidak lagi membeli stiker parkir secara terpisah.


Dalam rencana tersebut, biaya parkir akan dapat diproses seperti pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Dengan demikian, mahasiswa nantinya tidak perlu melakukan pembayaran parkir secara terpisah setiap semester.