Malang — Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 21 Universitas Merdeka Malang mengembangkan kolam bioflok yang dipadukan dengan sistem akuaponik sederhana berbahan bambu. Program tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk membantu masyarakat menekan biaya budi daya lele sekaligus memanfaatkan satu kolam untuk menghasilkan sayuran kangkung. Kegiatan itu dilaksanakan pada Senin, 3 Agustus 2026, di lokasi program kerja KKN 21. Kolam yang dibangun memiliki diameter empat meter. Di atasnya, mahasiswa memasang empat ruas bambu yang telah dilubangi dan digunakan sebagai media tanam kangkung.
Ketua Kelompok KKN 21 Universitas Merdeka Malang, Dinata, mengatakan penggabungan sistem bioflok dan akuaponik dilakukan untuk memberikan alternatif pemenuhan kebutuhan pangan yang relatif mudah diterapkan oleh masyarakat. "Dengan satu kolam, warga bisa memperoleh dua hasil sekaligus, yaitu ikan lele dan sayur kangkung, tanpa memerlukan lahan tambahan," ujarnya.
Bambu yang digunakan sebagai media tanam terlebih dahulu dilubangi pada sejumlah titik untuk menempatkan bibit kangkung. Tanaman kemudian memanfaatkan air kolam lele yang mengandung nutrisi dari sisa pakan dan kotoran ikan sebagai sumber unsur hara. Prinsip tersebut menjadi dasar dari sistem akuaponik, yakni memanfaatkan limbah dari budi daya ikan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Sementara itu, anggota KKN 21 yang menangani teknis kolam, Kevin, menjelaskan bahwa sistem bioflok dipilih karena dapat membantu menjaga kualitas air. Bakteri dalam sistem tersebut berperan mengurai senyawa seperti amonia yang muncul dari sisa pakan dan kotoran ikan. "Metode ini juga menghemat penggunaan air karena tidak perlu sering dikuras," katanya.
Selain membangun kolam percontohan, mahasiswa KKN 21 juga memberikan sosialisasi kepada kelompok tani dan ibu-ibu PKK mengenai penerapan sistem bioflok dalam berbagai skala, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga kelompok usaha. Dalam sosialisasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah teknik dasar budi daya lele, seperti pengaturan pemberian pakan, pemantauan kondisi air, serta langkah pencegahan penyakit pada ikan.
Mahasiswa juga memperagakan pembuatan akuaponik sederhana menggunakan galon bekas. Model tersebut ditawarkan sebagai alternatif bagi warga yang memiliki keterbatasan lahan dan tidak memungkinkan membangun kolam berukuran besar. Melalui simulasi tersebut, warga diharapkan dapat menerapkan sistem akuaponik dalam skala kecil di halaman rumah dengan biaya yang lebih terjangkau.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN 21, Anisa, mengatakan program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali peran kelompok masyarakat (Pokmas) di bidang perikanan yang sebelumnya sempat tidak aktif. "Harapannya, warga tidak hanya bergantung pada Pokmas untuk pembelajaran, tetapi juga mampu mengelola pangan harian secara mandiri dari pekarangan rumah masing-masing," ujarnya.
Menurutnya, penguatan Pokmas di bidang perikanan dapat berjalan seiring dengan upaya meningkatkan ketahanan pangan dan gizi keluarga. Lele dan kangkung dinilai sebagai bahan pangan yang relatif mudah diperoleh serta dapat menjadi sumber protein dan serat bagi masyarakat. Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari kelompok tani dan ibu-ibu PKK yang hadir. Sejumlah peserta menyatakan tertarik mencoba sistem akuaponik menggunakan galon bekas karena dianggap praktis serta tidak membutuhkan biaya besar.
Program kolam bioflok yang dipadukan dengan sistem akuaponik tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan KKN 21 Universitas Merdeka Malang. Program ini diarahkan untuk mendorong pemanfaatan potensi lokal dalam mendukung ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga.
Penulis : Kevin Khay
Penyunting : Fian Wahyu
Layouter : Fian Wahyu
