Kakiku lelah, pundakku berat, dan mataku terasa pedih. Hatiku tersayat karena harus melihatmu lagi di tempat menggali ilmu ini, bukanku egois ingin membuatmu hilang begitu saja tapi rasa sesal yang selalu saja menemukan jalan menuju perasaan hatiku "Bisa gak ya dapat kesempatan?." Kesempatan? apa aku pernah dapat kesempatan? mungkin iya, tapi kita berdua terlalu naif untuk mengakui pernah memberi dan mendapat kesempatan. Sudah banyak sekali yang harus ku lalui untuk mengikhlaskan mu, lucu sekali kata ikhlas harus muncul padahal belum pernah memulai apa-apa.
Ada banyak secuil momen yang selalu ku ingat tentang apa yang telah kita lalui, angan-angan kepalaku selalu memutar kembali momen di mana kita mengelilingi kota Malang semalam setalah dirimu mematahkan hatiku ini. Bucket bunga yang kubeli dengan secara spontan, tanpa mengetahui apa makna dibaliknya, kulakukan untuk mendapat perhatianmu kala itu. Kamu harus tau kalau malam itu pupa yang ada di dalam diriku berhasil menjadi imago sepenuhnya, itu sangat indah dan menyenangkan. Aku merasa seperti dapat melayang saat itu juga berkatmu, walau di momen inilah tanpa sadar bom waktu telah berputar.
Kamu seharusnya tau sendiri selanjutnya apa yang terjadi, aku ingin meminta maaf tentang apa yang harus kamu alami karenaku, tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Sekali lagi, maaf.
Tapi sebelum pesan ini selesai, ada hal yang mendesak ingin ku limpahkan tentang pandanganku padamu. Ada masa di mana aku ingin kamu terjatuh, hanya agar aku dapat turun dan membantumu. Ada masanya aku ingin orang-orang di sekitarmu menyakitimu, hanya agar aku dapat menjadi satu-satunya yang mendukungmu. Ada juga masa di mana aku ingin bertahan selamanya, hanya agar kamu menyadari bahwa hanya aku satu-satunya yang menginginkan mu.
Tapi nampaknya doa-doa itu berbalik kepadaku sendiri, justru aku yang terjatuh, orang-orang di sekitarku menyakitiku, tapi justru disitu kamu memberi jawaban yang ku cari, kamu tidak bertahan buat aku. And that's fine, itu normal. Kamu tidak ada kewajiban harus ada untuk diriku, aku justru sangat bahagia saat tahu itu, aku justru dapat bernafas lega karena tahu kamu memang bukan untuk aku. Aku senang karena akhirnya mendapat jawaban yang selama ini ku cari, jawaban yang akan kugunakan sebagai pembelajaran terpenting dalam hidupku.
Aku senang bisa mengenal orang sepertimu, aku kadang memang harus dikerasin untuk memahami sesuatu. Sekali lagi terimakasih telah mengajariku pelajaran yang berharga, aku akan selalu mendoakan hal-hal baik mendatangimu. Aku berharap kamu dapat memilih jalan yang benar, aku berharap kamu dapat menemukan seseorang yang kamu cari, dan yang terpenting aku berharap kamu dapat menemukan jawaban dari persoalan yang selalu membuatmu dirimu bingung, sedih, ataupun kesal.
Sekali lagi aku katakan minta maaf dan terimakasih!