Laga pembuka babak semi-final langsung menyuguhkan rollercoaster emosi. Hukum 1 mengambil inisiatif lebih dulu dan sukses mencetak gol pembuka, memicu jual-beli serangan yang intens. Namun, FTI menunjukkan mental baja dan berhasil membalikkan keadaan menjadi 4-3.
Tensi memuncak di menit-menit akhir pertandingan. Seorang pemain Hukum 1 terjatuh di kotak penalti setelah berduel dengan defender FTI. Kubu Hukum menuntut penalti, namun wasit bergeming karena menganggap tackle tersebut bersih dan mengenai bola. Keputusan ini memicu protes keras hingga pemain cadangan Hukum 1 masuk ke lapangan, menyebabkan keributan sesaat. Terlepas dari drama tersebut, peluit panjang berbunyi dan FTI berhak melangkah ke final.
Jika terdapat naskah film di turnamen ini, laga inilah tempatnya! FISIP 1 dan Teknik 2 bermain imbang 5-5 dalam laga super ketat untuk semi final 2. Namun, story of the match sesungguhnya ada di bawah mistar gawang FISIP 1.
Kehilangan kiper utama akibat cedera tanpa adanya kiper cadangan memaksa FISIP 1 menggunakan strategi ekstrem: menyulap pemain outfield dengan rompi menjadi kiper powerplay dadakan. Meski kebobolan 5 gol di waktu normal, sang kiper dadakan ini menjelma menjadi pahlawan di babak adu penalti! la sukses menepis dua tendangan pemain Teknik 2, mengantarkan FISIP 1 menuju final secara dramatis. Pure cinema!, itu artinya HUKUM 1 dan Teknik 2 bertemu untuk perebutan juara
Perebutan juara 3, laga perebutan tempat ketiga ini awalnya didominasi oleh Teknik 2 yang tampil sangat tajam dan sukses mendikte permainan hingga unggul jauh 7-2. Seiring berjalannya waktu, tensi di dalam maupun di pinggir lapangan terasa semakin memanas dan intens.
২
Di tengah atmosfer yang kian tinggi, Hukum 1 terus mencoba melawan balik dan puncaknya berhasil mencetak gol ke-3 mereka untuk mempersempit jarak menjadi 7-3. Sayangnya, tingginya tensi pertandingan berujung pada pecahnya kerusuhan di area lapangan sesaat setelah gol tersebut.
Perlu ditegaskan bahwa oknum-oknum yang memicu keributan tersebut bukanlah berasal dari barisan suporter Fakultas Hukum maupun Fakultas Teknik, melainkan penonton dari kalangan umum. Beruntung, pihak Koordinator Lapangan (Korlap) keamanan bergerak sangat cepat dan langsung menangani oknum-oknum tersebut di tempat, sehingga situasi dapat segera dikendalikan.
Di tengah angka kehadiran (attendance) turnamen yang sedang lesu, insiden semacam ini tentu sangat disayangkan. Sebagai penutup, terlepas dari insiden yang sempat mengganggu jalannya pertandingan, Teknik 2 tetap secara sah dinyatakan sebagai pemenang dengan skor akhir 7-3 dan resmi menyegel posisi Juara 3 Rector Cup tahun ini.
Laga puncak yang mendebarkan! FTI harus keluar dari jurang yang mereka masuki setelah tertinggal 2-0 dari FISIP 1 di babak pertama. Namun, apa yang terjadi di babak kedua adalah comeback paling berkelas. Entah bagaimana caranya dalam kurun waktu 10 menit, FTI memutarbalikkan keadaan dengan memberondong gawang FISIP 1 lewat 6 gol beruntun! Fisip sempat memberikan perlawanan dengan 2 gol tambahan, namun sayangnya perjuangan mereka belum cukup.
Apresiasi khusus harus diberikan kepada tribun FTI. Meski hanya dihadiri oleh 5 orang suporter setia, walau hanya 5 orang tapi pita suara mereka sukses, menciptakan atmosfer home yang solid. Menurut saya sebagai penulis, mereka berlima melebihi suara fans home etihad.