Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan semakin meluas pada Agustus 2026. Selain menurunkan kualitas udara dan mengganggu penerbangan, asap juga mulai berdampak hingga ke Sarawak, Malaysia.
Berdasarkan pemantauan satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA-20 pada 19 Agustus 2026, terdeteksi ratusan titik panas di beberapa provinsi di Kalimantan. Kalimantan Barat mencatat 441 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 315 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki 34 titik panas dan Kalimantan Utara sebanyak 17 titik. Data tersebut menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas kebakaran di wilayah Kalimantan. Secara nasional, Kementerian Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) mencatat luas hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia mencapai sekitar 202.004 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Di Kalimantan Barat, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat sekitar 28.680 hektare lahan terbakar. Sementara itu, data NASA FIRMS menunjukkan jumlah titik panas di Kalimantan meningkat dari 25.382 titik pada Juli menjadi 44.535 titik pada pertengahan Agustus 2026. Peningkatan jumlah titik panas dipicu oleh kondisi cuaca yang kering sehingga lahan dan vegetasi menjadi lebih mudah terbakar. Fenomena El Niño yang cukup kuat turut memperbesar risiko kebakaran karena membuat kondisi semakin kering dan api lebih mudah menyebar. Kondisi tersebut juga mendapatkan perhatian pemerintah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebutkan bahwa intensitas El Niño tahun ini bahkan lebih kuat dibandingkan dengan tahun 2015.
“Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” ujar Raja Juli Antoni dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa 18 Agustus seperti dikutip dari Antara.
Dampak karhutla mulai dirasakan di berbagai daerah. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kabut asap menyebabkan kualitas udara memburuk. BMKG menyatakan kualitas udara di Banjarbaru pada Rabu 19 Agustus berada pada kategori berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikel PM2,5 yang mencapai 389,4 µg/m³.
Kabut asap juga mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin. Sebanyak 12 penerbangan mengalami keterlambatan, terdiri atas empat penerbangan kedatangan dan delapan penerbangan keberangkatan. General Manajer Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin Stephanus Millyas Wardana mengatakan penerbangan sempat tertunda terjadi akibat terbatasnya jarak pandang. Meski demikian, seluruh penerbangan yang terdampak akhirnya dapat diberangkatkan menuju tujuan masing-masing.
Tidak hanya berdampak di dalam negeri, asap dari wilayah perbatasan Kalimantan Barat juga dilaporkan bergerak menuju Sarawak, Malaysia. Akibatnya, persoalan kabut asap tidak lagi menjadi masalah lokal, tetapi telah menimbulkan dampak lintas negara. Departemen Pendidikan Sarawak menutup sementara sekolah di sejumlah wilayah, antara lain Kuching, Padawan, Serian, dan Samarahan, selama 20–21 Agustus 2026 akibat memburuknya kualitas udara. Menghadapi kondisi tersebut, sejumlah pemerintah daerah di Kalimantan memperpanjang maupun meningkatkan status tanggap darurat karhutla. Di Kabupaten Kotawaringin Barat, misalnya, status tanggap darurat diperpanjang selama 14 hari, mulai 21 Agustus hingga 4 September 2026. Hingga 18 Agustus, tercatat 189 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 859,49 hektare.
Pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya penanganan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau kawasan gambut Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, serta mendorong penguatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah tersebut dilakukan untuk memicu hujan di wilayah prioritas guna membantu pemadaman kebakaran. Selain penanganan di lapangan, pemerintah juga menempuh langkah hukum. Kementerian Kehutanan menyatakan tengah memproses 42 pemegang izin kehutanan dan korporasi yang diduga lalai atau sengaja membuka lahan dengan cara membakar.
Meluasnya kabut asap membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker dengan filtrasi tinggi apabila harus berada di luar ruangan.
Penulis: Oktaviana Natika Karisma Dara Ramadani
Penyuntingan: Wayan Putri Nisrina Arum
Layouter: Fian Wahyu Firmansyah
Refrensi :
https://tirto.id/titik-karhutla-di-kalimantan-yang-sebabkan-kabut-asap-hBvZ
https://news.detik.com/berita/d-8625148/12-penerbangan-terdampak-akibat-asap-karhutla-di-banjarbaru-kalsel
https://tirto.id/asap-karhutla-kalimantan-masuk-malaysia-sekolah-tutup-2-hari-hBz4
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260819121235-641-1393922/menhut-sebut-el-nino-2026-sangat-kuat-lebih-tinggi-dari-2015#goog_rewarded
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260813144151-7-758994/penampakan-api-besar-hanguskan-hutan-kalimantan-asap-membubung-tinggi
