MALANG – Pelaksanaan hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat fakultas Universitas Merdeka (Unmer) Malang pada Rabu (2/9/2026) diwarnai penerapan konsep anti-kekerasan di sejumlah fakultas. Panitia di berbagai fakultas menegaskan upaya menghapus senioritas, bullying, bentakan, dan bentuk pendisiplinan keras dalam penyambutan mahasiswa baru.
Namun, di tengah komitmen tersebut, sejumlah mahasiswa baru masih memberikan catatan mengenai komunikasi panitia dan gaya pendampingan di lapangan. Di sisi lain, tim kesehatan mencatat puluhan mahasiswa baru mengalami gangguan kesehatan selama pelaksanaan hari pertama.
Berdasarkan pendataan sementara yang disampaikan Ketua Umum KSR Unmer Malang, Erik, terdapat sedikitnya delapan mahasiswa baru FISIP, enam mahasiswa Fakultas Hukum, dan enam mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang mengalami sakit. Sementara fakultas lain diperkirakan masing-masing menangani sekitar 10 mahasiswa baru yang membutuhkan perhatian kesehatan.
Keluhan kesehatan yang dominan dilaporkan berupa asam lambung dan maag. Untuk mendukung pelayanan kesehatan selama kegiatan, setiap fakultas ditempatkan dua anggota KSR, sementara FISIP dan FEB masing-masing mendapatkan tiga anggota.
Pendekatan Persuasif Gantikan Pendisiplinan Keras
Komitmen menghapus budaya kekerasan terlihat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ketua Pelaksana PKKMB FISIP, Junanda, mengatakan panitia mengubah konsep Komisi Disiplin (Komdis) menjadi Divisi Disiplin dan Evaluasi (Danval).
Menurutnya, perubahan tersebut dilakukan agar pendisiplinan mahasiswa baru tidak lagi identik dengan kemarahan atau kekerasan.
“Jadi kita bukan mendisiplinkan secara keras, tapi kita mengajarkan dan mengevaluasi mahasiswa supaya lebih benar lagi,” kata Junanda.
Dalam pendekatan tersebut, panitia memilih menanyakan alasan di balik kesalahan mahasiswa baru dan memberikan evaluasi secara persuasif. FISIP juga mencampur mahasiswa dari berbagai program studi dalam kelompok untuk mendorong interaksi dan menghindari pengelompokan berdasarkan latar belakang.
Konsep serupa diterapkan di Fakultas Teknik. Ketua Pelaksana PKKMB Fakultas Teknik Ahmad Raihan mengatakan pihaknya telah berupaya memutus tradisi yang dinilai kurang baik sejak beberapa tahun terakhir.
“Mulai dari dua tahun yang lalu kita sudah berusaha memutus rantai tradisi-tradisi yang kurang bagus,” ujarnya.
Menurut Ahmad, Fakultas Teknik berupaya membangun hubungan yang lebih setara antargenerasi mahasiswa agar mahasiswa lama dan mahasiswa baru dapat berbaur serta bekerja sama tanpa senioritas. Panitia Fakultas Teknik juga menegaskan tidak adanya tekanan, bullying, maupun diskriminasi dalam pelaksanaan kegiatan.
Di Fakultas Hukum, Ketua Pelaksana Dion Bosco mengatakan panitia telah memberikan instruksi sejak awal kepanitiaan agar tidak ada anggota yang membentak mahasiswa baru. Menurutnya, fungsi pendisiplinan tetap ada, tetapi pendekatannya dibuat lebih ramah dibandingkan pola sebelumnya.
“Kita memang sudah himbau dari awal kepanitiaan sampai di hari ini tidak boleh ada yang membentak maba,” kata Dion.
Sementara itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis menekankan penyambutan mahasiswa baru dengan senyum dan larangan menggunakan kata-kata kasar maupun nada tinggi. Ketua Pelaksana PKKMB FEB Reza Alfat Ramadan mengatakan seluruh panitia diminta menjaga suasana kegiatan agar mahasiswa baru tidak merasa takut.
Di Fakultas Psikologi, Koordinator Acara Rere mengatakan panitia saling mengingatkan melalui Handy Talkie (HT) untuk menjaga suasana hati selama kegiatan. Menurutnya, kondisi emosional panitia turut menentukan kenyamanan mahasiswa baru.
“Kita kan komunikasinya pakai HT, nah di HT itu kami selalu mengingatkan, ‘Ayo senyum, ayo senyum,’” ujarnya.
Hari Pertama Didominasi Materi dan Pengenalan Akademik
Pelaksanaan hari pertama PKKMB fakultas secara umum berfokus pada materi akademik, pengenalan lingkungan kampus, serta pembekalan mengenai kehidupan mahasiswa.
Di FISIP, mahasiswa baru mendapatkan pengenalan lingkungan kampus, kelas, dosen, serta informasi mengenai program studi. Ketua Pelaksana Junanda mengatakan kegiatan hari pertama lebih diarahkan pada pengenalan dasar sebelum mahasiswa memasuki dunia perkuliahan.
FEB mengemas sejumlah materi melalui format talk show. Materi yang disampaikan antara lain mengenai anti-korupsi, mencintai Indonesia, dan pencegahan kekerasan di lingkungan kampus.
Selain itu, FEB memperkenalkan penugasan “Peta Mandala Pradipta” dan “Paspor Mandala Pradipta” sebagai bentuk pencatatan keaktifan dan keterlibatan mahasiswa baru.
Di Fakultas Hukum, hari pertama dibuka melalui seremoni dan penampilan seni, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan organisasi kemahasiswaan, sistem pendidikan tinggi, pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), serta materi mengenai pencegahan kekerasan.
Koordinator Acara Fakultas Hukum, Mel, menilai materi mengenai pencegahan kekerasan menjadi salah satu bagian penting bagi mahasiswa baru sebagai bekal menghadapi kehidupan kampus.
Fakultas Teknologi Informasi (FTI) juga memusatkan hari pertama pada penyampaian materi akademik dan pengenalan kehidupan kampus. Untuk mengurangi kejenuhan, panitia menyisipkan mini games dan ice breaking.
Koordinator Acara FTI Gracie Caren Cintayuke mengatakan mahasiswa baru juga berada dalam pengawasan panitia pendamping agar kegiatan berjalan tertib dan potensi tindakan tidak pantas dapat segera ditangani.
Sementara itu, Fakultas Teknik menambahkan penampilan jargon dan yel-yel kelompok setelah rangkaian materi. Menurut Ahmad Raihan, materi tetap menjadi bagian utama dalam hari pertama karena menjadi bekal awal mahasiswa baru memasuki perkuliahan.
Di Diploma Kepariwisataan, mahasiswa baru mendapatkan pengenalan lingkungan kampus serta pembekalan yang berkaitan dengan dunia profesional. Materi hari pertama mencakup tata krama, etika berkomunikasi dengan dosen, grooming, hingga pengenalan seragam yang akan digunakan mahasiswa selama perkuliahan.
Koordinator Acara Diploma Kepariwisataan Luna mengatakan pengawasan terhadap mahasiswa baru juga dilakukan melalui Divisi Danval, terutama berkaitan dengan kerapian dan grooming yang menjadi bagian dari karakter pendidikan pariwisata.
Mahasiswa Baru Sambut Positif, Namun Masih Ada Catatan
Secara umum, mahasiswa baru memberikan respons positif terhadap pelaksanaan hari pertama.
Di Fakultas Hukum, Uma dan Edsel menilai kegiatan berlangsung lebih menyenangkan dibandingkan gambaran mereka mengenai ospek. Uma mengaku kegiatan membantunya mengenal mahasiswa dari berbagai daerah, sedangkan Edsel menilai materi dan pendampingan panitia memberikan pengalaman yang bermanfaat.
Uma mengatakan panitia mampu menuntun mahasiswa baru tanpa menciptakan suasana yang menakutkan.
“Mungkin casing-nya doang, tapi dalamnya nggak. Benar-benar menuntun kita semua,” ujarnya.
Respons positif juga datang dari mahasiswa baru Diploma Kepariwisataan. Nael dan Dita mengaku awalnya merasa gugup dan takut mengikuti PKKMB. Namun, suasana tersebut berubah setelah mereka mengikuti kegiatan dan berinteraksi dengan panitia.
Menurut Dita, sikap panitia yang ramah membuat mahasiswa baru merasa lebih aman dan nyaman selama kegiatan berlangsung. Mereka juga menilai materi mengenai etika, penampilan, serta pengenalan lingkungan kampus membantu persiapan memasuki perkuliahan.
Di Fakultas Psikologi, mahasiswa baru juga mengapresiasi pendekatan panitia. Berlian mengaku sempat khawatir akan mendapatkan perlakuan keras selama PKKMB, tetapi kemudian menilai panitia bersikap humble dan kegiatan disusun secara terstruktur.
Meski demikian, tidak seluruh pengalaman mahasiswa baru berjalan tanpa catatan.
Arman, mahasiswa baru Administrasi Publik asal Lombok Utara, mengaku mengalami culture shock terhadap gaya komunikasi sebagian pendamping yang menurutnya menggunakan suara keras dan membentak.
“Harapannya sih buat panitia ya, agak lebih lembut sedikit. Jangan terlalu dibentak,” kata Arman.
Mahasiswa baru lain, Margarette Hanna Rozza, juga menyampaikan harapan agar pendekatan panitia tidak menggunakan bentakan. Meski begitu, keduanya mengakui PKKMB membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus dan kehidupan perkuliahan.
Catatan mengenai koordinasi juga datang dari Fakultas Teknik. Mahasiswa baru Fira menilai secara umum kegiatan berlangsung seru dan panitia cukup membantu. Namun, ia mengaku masih melihat adanya miskomunikasi antarpanitia di lapangan.
“Kayaknya panitia lagi banyak miskomnya,” ujar Fira.
Seorang mahasiswa baru Fakultas Teknik lainnya juga menilai persiapan dan komunikasi antarpanitia masih dapat ditingkatkan agar miskomunikasi di lapangan dapat diminimalisir.
Panitia Soroti Koordinasi dari Tingkat Universitas
Di balik penilaian positif terhadap pelaksanaan kegiatan, sejumlah panitia tingkat fakultas menyampaikan kritik terhadap koordinasi dari pihak universitas.
Ketua Pelaksana PKKMB FISIP Junanda menyoroti perubahan kebijakan terkait rencana penyambutan mahasiswa baru sebelum pelaksanaan PKKMB fakultas. Menurutnya, FISIP sebelumnya telah mempersiapkan konsep penyambutan berupa pagar hidup berdasarkan arahan pimpinan fakultas.
Namun, rencana tersebut kemudian tidak diperbolehkan oleh Wakil Rektor III.
“Dari awal kita sudah diarahkan oleh Dekan, ‘Ayo kita bareng-bareng nyambut mahasiswa’. Kita sudah prepare melalui korlap untuk bikin semacam pagar hidup supaya mahasiswa bisa langsung diarahkan ke FISIP. Tapi dari pihak universitas tiba-tiba tidak membolehkan hal tersebut,” kata Junanda.
Keluhan mengenai distribusi informasi juga disampaikan Ketua Pelaksana PKKMB FEB Reza Alfat Ramadan. Ia berharap informasi mengenai PKKMB dari tingkat universitas dapat disampaikan lebih awal kepada fakultas.
“Sebisa mungkin informasi terkait PKKMB itu jangan mendadak, soalnya hal itu bakal menyulitkan kita teman-teman di fakultas,” ujarnya.
Kritik serupa disampaikan Ketua Pelaksana Fakultas Hukum Dion Bosco. Ia berharap pada pelaksanaan berikutnya informasi dan persiapan dari tingkat universitas dapat dilakukan lebih awal.
Koordinator Acara Fakultas Psikologi, Rere, juga mengakui persiapan panitia menghadapi kendala berupa rundown dan materi yang diterima dalam waktu relatif mepet. Menurutnya, kondisi tersebut membuat persiapan tidak dapat dilakukan secara maksimal, termasuk dalam mengatur alokasi waktu kegiatan.
Meski terdapat sejumlah catatan, sebagian besar ketua pelaksana dan koordinator acara memberikan penilaian tinggi terhadap pelaksanaan hari pertama. Penilaian yang diberikan berkisar antara 8 hingga 10.
Pelaksanaan PKKMB tingkat fakultas hari pertama di Unmer Malang dengan demikian memperlihatkan dua sisi. Di satu sisi, panitia di berbagai fakultas secara terbuka berupaya meninggalkan tradisi senioritas dan pendisiplinan keras. Di sisi lain, pengalaman sebagian mahasiswa baru dan catatan mengenai koordinasi menunjukkan masih terdapat persoalan teknis dan komunikasi yang perlu dievaluasi.
Komitmen “Kampus Merdeka, Kampus Gembira” telah diterjemahkan melalui larangan kekerasan, pendekatan persuasif, serta pengawasan terhadap potensi bullying. Namun, pelaksanaannya di lapangan masih menjadi pekerjaan bersama agar suasana ramah yang dirancang panitia dapat dirasakan secara merata oleh seluruh mahasiswa baru.
