9 Desember 2025
KARANGANYAR Dua peserta Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 2025 dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti lomba lari lintas alam di lereng Gunung Lawu pada Minggu (7/12). Kedua pelari tersebut, yakni Pujo Buntoro (55) dan Sigit Joko Pumomo (45), yang berkompetisi pada kategori 15 kilometer, diduga mengalami kolaps akibat kondisi fisik yang rentan serta hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut.
Kronologi Kejadian, Sigit Joko Purnomo ditemukan tak sadarkan diri di Bukit Mitis, KM 12, sekitar pukul 10.44 WIB. la diperkirakan meninggal karena serangan jantung. Sementara itu, Pujo Buntoro dilaporkan jatuh pingsan di Bukit Cemoro Wayang, KM 8, pada pukul 10.55 WIB. Pujo diketahui memiliki riwayat gangguan pernapasan atau penyakit paru-paru. Proses evakuasi keduanya memakan waktu 4-5 jam akibat medan yang sulit dan curah hujan yang tinggi.
Analisis Medis dan Imbauan Ahli, dokter Tirta, yang juga pernah mengikuti SLU 2024, menilai insiden tersebut menjadi pengingat bagi peserta untuk berlatih secara memadai serta memahami kemampuan fisik sebelum turun dalam lomba. Menurutnya, tubuh biasanya memberi "alarm bahaya" seperti lemas atau hampir pingsan sebelum cedera berat terjadi.
la menjelaskan bahwa rute 15 kilometer dengan elevation gain (EG) 1.200 meter setara dengan beban lari sekitar 27 kilometer sehingga memerlukan kesiapan tubuh yang optimal.
Dokter, Anton Budi Asih, turut menjelaskan bahwa pelari berusia 45-55 tahun memiliki risiko metabolik yang lebih besar. Aktivitas lari jarak menengah hingga jauh dapat memicu lonjakan adrenalin yang mempersempit pembuluh darah dan berpotensi memecah plak arteri, sehingga bisa menyebabkan serangan jantung. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit karena dehidrasi juga dapat memicu henti jantung.
Para ahli juga mengingatkan peserta untuk segera berhenti beraktivitas jika merasakan nyeri dada, keringat dingin, atau detak jantung tidak teratur. Olahraga, ditekankan mereka, bukan bertujuan menjaga kesehatan, memaksa tubuh melampaui batas.