Bayangkan toko buku dipenuhi oleh anak muda. Mereka tidak hanya membeli buku tetapi juga mengoleksi pembatas buku edisi terbatas, kartu pos, hingga menghadiri temu penulis favorit. Berawal dari Korea Selatan dan kemudian berkembang ke berbagai negara lain, aktivitas membaca perlahan mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup modern. Buku tidak lagi hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari identitas dan budaya populer melalui fenomena text hip, yaitu tren yang menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Bisakah fenomena serupa terjadi di Indonesia?
Pertanyaan tersebut menjadi menarik mengingat Indonesia sebenarnya menunjukkan perkembangan dalam budaya literasi. Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TGM/TKM) mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, nilai TGM nasional berada pada angka 63,58, kemudian meningkat menjadi 66,77 pada tahun 2023, dan kembali naik menjadi 72,44 pada tahun 2024. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya program literasi dan perluasan akses perpustakaan. Namun, berbagai kajian juga menunjukkan bahwa tantangan masih besar, terutama dalam membangun kebiasaan membaca yang konsisten dan kemampuan memahami bacaan secara mendalam.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan memperbanyak koleksi buku atau menyediakan fasilitas perpustakaan. Indonesia telah memiliki berbagai perpustakaan modern, festival literasi, pameran buku, hingga komunitas baca yang aktif. Namun, membaca belum sepenuhnya dipandang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Dengan jumlah penduduk muda yang besar, perkembangan industri kreatif yang pesat, serta tingginya penggunaan media sosial, Indonesia memiliki potensi untuk mendekatkan aktivitas membaca dengan kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut dapat didukung melalui berbagai cara, seperti menghadirkan buku dengan desain yang lebih menarik dan edisi kolektor, menjadikan toko buku sebagai ruang kreatif bagi anak muda, serta memanfaatkan platform digital untuk membuat diskusi buku lebih interaktif. Selain itu, kreator konten juga memiliki peran penting dalam mengubah persepsi bahwa membaca bukanlah aktivitas yang membosankan, melainkan kebiasaan yang dapat memperluas wawasan sekaligus menjadi bagian dari identitas generasi muda.
Membaca seharusnya tidak berhenti sebagai kewajiban pendidikan, tetapi berkembang menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Ketika buku mampu menjadi bagian dari percakapan publik, media sosial, ruang komunitas, hingga gaya hidup anak muda, saat itulah membaca tidak lagi sekadar aktivitas individu, melainkan menjadi budaya populer yang memperkaya kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Penulis:
Wayan Putri Nisrina Arum
Editor:
Fian Wahyu Firmansyah
Layouter:
Nadya Kirana Wibisovia
Sumber:
https://www.perpusnas.go.id/berita/perpusnas-genjot-peningkatan-budaya-baca-dan-literasi-melalui-program-inklusi-dan-digitalisasi
https://www.perpusnas.go.id/berita/iplm-2024-catat-rekor-tinggi-literasi-nasional-semakin-meningkat
https://m.koreaherald.com/article/10531345
Sumber Foto:
https://weekender.thejakartapost.com/prosperity-and-progress/2026/03/05/the-need-to-read-why-jakartans-are-going-back-to-bookstores.html
https://lib.ub.ac.id/berita/manfaat-membaca-bagi-mahasiswa/
https://www.abc.net.au/indonesian/2026-05-22/anak-indonesia-mulai-mendirikan-perpustakaan-sendiri/106696030
https://www.kompasiana.com/aidaadhas/65a0afc512d50f6cdf6b72d3/jakarta-book-party-gerakan-membaca-buku-dari-gen-z-untuk-gen-z
Bisakah Membaca Menjadi Budaya Populer di Indonesia?
