Suara rintik hujan terdengar di genting seng rumah. Kala riuh pikiranku mengingat semua hal yang terjadi padaku. Begitu sesak bernafas tuk berjumpa hari esok, akankah ku sanggup? Aku menatap langit-langit kamar, gelap, dingin dan sendiri. Hujan itu seakan tau perasaanku, ikut serta menangis akan kepedihanku. Ini hanya aku yang menghibur diri. Sakit, air mataku tak sengaja menghujani lenganku yang tersayat. Ya... sakit, begitu sakit.
Tapi jauh lebih sakit lubuk hatiku yang tak terobati. Saat aku mengingat semua klise yang ku jalani, hatiku rasanya seperti tercabik-cabik. Berisik pikiran untuk menyudahi semua. Aku ingin teriak, tetapi mengganggu malam istirahat tetangga. Aku ingin didengar, tetapi semua tak peduli denganku. Aku ingin berbicara, tetapi mereka mencemoohku. Bagaimana aku pergi dari lingkungan toxic ini? Arghhh, air mataku mengering, tetapi batinku masih terisak. Mati, mati, MATI.... pikirku. Aku obrak-abrik seluruh tas sekolah, hingga ku menemukan cutter yang sedikit ada bekas darah disana. “Nuna, maaf.
Meskipun kamu sudah memergokiku dan menghentikanku menyayat tangan ini di belakang sekolah. Tapi sepertinya aku gak layak hidup Nuna.Terimakasih, setidaknya kamu satu-satunya orang yang menginginkanku tetap hidup.” Ujarku sambil terisak Pikiranku begitu kosong, hanya aku menatap tangan yang penuh luka sayatan. Begitu penuh goresan, bahkan masih terlihat memrah. “Sepertinya ini luka yang paling dalam.” Ucapku tersenyum dan ingin mengakhiri semua.
Namun, waktu terasa sunyi sejenak. Suara rintik hujan tiada. Hawa semakin dingin. Sejenak juga aku merasakan keraguan dihatiku. Untuk menghembuskan nafas pun berat tuk bersuara. Saat itu. Saat aku mendengar suara yang tak asing di telinga. “Frizy, jangan menyusulku” Suara yang ku rindukan, berbisik pelan.